Membekali Anak Untuk Masa Depan

Setiap orang pasti memikirkan masa depan anak-anaknya. Orang tua selalu  menginginkan agar anaknya hidup bahagia, menjadi orang terpandang, berguna bagi keluarganya, masyarakatnya, dan bahkan agama, negara, dan bangsanya. Sebaliknya,  tidak ada orang tua yang segera menyerah, tidak memikirkan masa depan anaknya. 


Pertanyaannya adalah,  bagaimana menyiapkan anak-anaknya di masa depan itu. Tentu jawabnya bermacam-macam, sesuai dengan wawasan, pandangan hidup masing-masing orang, dan kemampuannya Sering terdengar ucapan bahwa yang terpenting anaknya memiliki pengetahuan luas, pengalaman, dan ketrampilan. Siapapun yang kaya ilmu, memiliki pengalaman, dan ketrmpilan  akan bisa hidup di masa depan, di mana dan kapan saja.


Ada juga orang yang meyakini bahwa ilmu dan ketrampilan tidak cukup. Maka anak-anaknya harus disiapkan segala kebutuhannya. Selain dipenuhi kebutuhan pendidikannya, juga dipersiapkan tentang rumahnya, kebunnya, lapangan usahanya, dan bahkan dicukupi  apa saja yang sekiranya dibutuhkan untuk hidup. Orang semacam ini seakan-akan tidak percaya terhadap kemampuan anak-anaknya. 


Tetapi juga ada yang berpandangan lain, bahwa ilmu pengetahuan dan ketrampilan dianggap penting, tetapi ada yang lebih penting lagi, yaitu  agamanya. Mereka  berpandangan bahwa, apapun yang dimiliki jika tidak disempurnakan dengan bekal agama, semuanya yang ada  tidak akan bermakna dan bahkan akan menjadi beban hidupnya. Orang tua seperti ini melihat, betapa banyak orang yang semasa kecilnya dimanja, ternyata hidupnya malah gagal. Tanpa dibekali agama, semua yang diwariskan ternyata  justru membebani hidupnya. 


Ada juga orang tua yang selalu mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Zaman yang semakin terbuka, bebas, dan modern selalu menghantuinya. Mereka memandang  bahwa  tantangan dan godaan masa depan semakin berat dan sulit dihadapi.  Terutama adalah terkait dengan menyelamatkan  akhlaknya. Mereka berpikir bahwa  pengaman yang  efektif adalah  agama. Karena itulah, apapun jenis sekolah yang dipilihnya, orang tua dimaksud berwanti-wanti  harus menghafal al Qur’an. Mereka berkeyakinan bahwa, al Qur’an dan sunnahnya yang mampu  menjaga hati anak-anaknya. 


Membekali anak  untuk menghadapi hidup  di masa depan memang tidaklah mudah. Apalagi,  di alam terbuka seperti saat ini  dan lebih-lebih di masa mendatang. Banyak orang membanggakan dengan kehidupan yang maju dan modern, tetapi ternyata tantangan dan problem kehidupan  justru semakin banyak dan berat. Harta yang melimpah  dan jabatan tinggi ternyata  justru menjadi sebab jatuhnya dan  kesengsaraannya. Akhirnya baru menyadari bahwa harta dan jabatan itu penting, tetapi bukan  segala-galanya. 


Menyiapkan anak di masa depan, kiranya tidak lepas dari bagaimana memandang hidup ini secara tepat.   Bagi orang beragama memahami hidup ini bukan sebatas di dunia saja, tetapi juga berlangsung hingga di akherat kelak. Agar selamat dan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki,--- baik di dunia dan di akherat,  memerlukan bekal yang cukup. Hidup di dunia yang serba modern, dinamis,  dan cepat berubah memerlukan bekal sesuai dengan tuntutan zamannya. Demikian pula untuk meraih keselamatan di akherat,  juga memerlukan bekal yang cukup pula.  


Oleh karena itu, bagi orang tua yang berada dan menginginkan anak-anaknya meraih sukses hidup yang sebenarnya, memilihkan lembaga pendidikan yang dipandang berkualitas adalah sebuah pilihan yang tepat. Sudah barang tentu, lembaga pendidikan yang berkualitas pasti menuntut biaya yang tidak murah.  Seharusnya pemerintah mencukupi kebutuhan lembaga pendidikan yang bermutu  untuk mencerdaskan rakyatnya, Akan tetapi pada kenyataannya, harapan dimaksud  belum berhasil diwujudkan. Akibatnya, muncul lembaga pendidikan swasta dengan resiko, yaitu orang tua dibebani ikut menanggung pembiayaannya. 


Mendidik orang bukan pekerjaan  gampang, kadangkala  lebih sulit dibanding mendidik binatang. Beberapa bulan saja, gajah bisa diajari bermain sepak bola. Monyet dalam waktu singkat, diajari main komedi sudah lihai. Beruk diajari memetik kelapa hanya dalam waktu satu bulan sudah mahir.  Akan tetapi tidak demikian ketika mengajari anak manusia. Bertahun-tahun diajari belum tentu berhasil sesuai harapannya. Itupun memerlukan tenaga pendidik yang bukan sembarangan, dan kelengkapan yang tidak mudah dipenuhi. Mereka harus dibiasakan berdisiplin, menghargai waktu, belajar dan berlatih secara sungguh-sungguh, dan diberi ketauladanan. Akhirnya, memerlukan tenaga yang tidak sedikit,  dan tentu biayanya  menjadi mahal. Wallahu a’lam


Prof. Dr. Imam Suprayogo
Guru Besar UIN Malang
Ketua Dewan Pakar Tazkia IIBS

Share this post