Tunjang Kemampuan Meneliti, Santri SMA Thursina IIBS Belajar Buat Kuisioner yang Apik

Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) kembali menghadirkan expert dalam program Inspirational Talk (05/02). Mengusung tema Questionnaire: Design The Effective Questions For Powerful Information sesi kali ini diikuti oleh santri kelas XI semua jurusan. Hadir sebagai pemateri adalah Choiria Anggraini, S.Ikom., M.Ikom., Peneliti dan Dosen Digital Public Relations Universitas Telkom. Melalui sesi ini santri diajak untuk memahami cara memilih metode dan membuat pertanyaan yang efektif untuk metode survei.

Mengawali sesi, Choiria mengungkapkan bahwa sejatinya setiap orang selalu melakukan riset dalam kegiatan sehari-hari. Proses mencari informasi di internet maupun media lain juga termasuk dalam riset. Namun sebagian besar adalah riset tidak terstruktur. Sedangkan riset dalam kegiatan akademik merupakan riset terstruktur yang melibatkan pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dan tidak terbatas topik apapun.

“Melakukan riset itu tidak hanya memuaskan kita secara akademis, tetapi juga harus ada dampak apa selanjutnya,” ungkapnya.

   

Lebih lanjut, Choiria kemudian menjelaskan terkait konsep dasar dari kuesioner daring yang melibatkan variabel mandiri dan terikat. Penentuan variabel itu harus dilakukan sebelum memulai penelitian agar lebih mudah untuk menentukan pertanyaan pertanyaan yang akan dibuat. Selain itu, peneliti juga perlu membuat indikator-indikator penelitian untuk setiap variabel dan menjabarkannya. Penjabaran itulah yang akan diterjemahkan kedalam pertanyaan.

“Saat membuat pertanyaan kita juga harus menyesuaikan dengan narasumber yang akan kita teliti, utamanya tentang bahasa. Jika tidak disesuaikan, narasumber akan kesulitan untuk menerjemahkan maksud kita yang tentunya juga akan menyulitkan kita nantinya,” jelasnya.

Melanjutkan materi, Choiria mengungkapkan bahwa ada beberapa pertanyaan yang bisa digunakan oleh peneliti untuk menentukan variabel dalam penelitiannya. Salah satunya adalah dengan menemukan masalah dari topik yang ingin dibahas. Untuk menemukan masalah itu bisa dengan membaca-baca berita, jurnal, ataupun penelitian lain.

   

“Secara sederhana kita juga bisa menentukan variabel variabel itu dengan kalimat ‘apa mempengaruhi/berhubungan dengan apa’. Sehingga sangat memungkinkan juga bagi peneliti untuk membuat variabelnya sendiri,” papar Choiria.

Proses survei akademik tidak harus berbentuk formal, namun juga bisa di modifikasi. Choiria menjelaskan bahwa salah satu modifikasi yang dilakukan adalah melalui media sosial. Pada survei untuk pembuatan produk, peneliti juga bisa memberikan ilustrasi pada kuesioner. Hal itu untuk menambah imajinasi narasumber terkait produk yang ingin diproduksi. Sehingga narasumber nantinya bisa memberikan jawaban yang lebih valid.

“Peneliti juga harus punya kreatifitas dalam menyajikan data hasil penelitian. Jadi baik peneliti maupun orang yang membaca penelitiannya bisa lebih mudah untuk memahami hasil penelitian,” ungkapnya.(nai/lil)

Share this post