Ubah Energi Suara Jadi Energi Listrik, Santri SMA Thursina IIBS Sabet Medali Emas di IAYSF 2022

Santri Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) berhasil menciptakan inovasi energi terbarukan. Melalui ide nya tentang memanfaatkan kebisingan pabrik sebagai sumber energi listrik, 5 santri Thursina berhasil meraih medali emas melalui gelaran 7th International Avicenna Youth Science Festival (IAYSF) 2022 (14/09).

Tim Thursina IIBS yang berlaga dalam gelaran itu diwakili oleh Balaga Idnick, Nayif Muhammad Dzaki, Muhammad Raafi Ananda, Muhammad Roayna Azzam Muntaqo, dan Mochammad Zaky Jauhariel Irsyadi. Seluruhnya merupakan santri kelas 11 SMA Thursina IIBS.

Mengangkat judul penelitian Memanfaatkan Polusi Kebisingan Pabrik sebagai Sumber Energi Listrik Ramah Lingkungan dengan Generator Piezoelektrik, santri berhasil unggul dari 25 tim finalis dari seluruh dunia. Diantaranya Indonesia, Malaysia, Iran, India, dan Romania.

Salah anggota tim, Mochammad Zaky Jauhariel Irsyadi  menyampaikan, metode penggunaan suara sebagai sumber energi massal tergolong tidak umum bagi masyarakat. Ide ini muncul dari hasil diskusi tim yang mengerucut pada urgensi energi terbarukan.

Setelah berjibaku dengan berbagai ide tentang energi terbarukan, barulah kami sepakat untuk mengambil judul Harness Factory Noise Pollution as an Environmentally Friendly Source of Electrical Energy with Piezoelectric,” jelas Zaky.

Melalui penelitian ini, santri Thursina memberikan inovasi pada alat Piezoelectrik. Yaitu alat yang mampu mengubah energi mekanik berupa tekanan menjadi energi listrik. Inovasi itu berupa penambahan plat parabola sebagai pengumpul tekanan suara. Melalui inovasi ini, tekanan suara terkumpul dalam satu titik. Sehingga, energi yang dihasilkan dapat lebih besar.

Penerapan penelitian ini pada area industri tentu bisa sangat efektif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diestimasikan dari suara yang dihasilkan satu pabrik atau kapal, sekitar 100-175 desibel, dapat menghasilkan tegangan listrik sebesar 6-10 Volt.

Zaky mengungkapkan, tim membutuhkan waktu cukup lama dalam proses perakitan prototype. Utamanya dalam mencari referensi. Meskipun begitu, dirinya dan tim justru merasa lebih tertantang. Mengingat ide yang coba mereka realisasikan tergolong jarang.

Setelah proses penelitian, perakitan prototype alat, dan penulisan makalah. Terakhir, sampai tahap persiapan presentasi. Agar nantinya mampu menjelaskan karya yang sudah digagas dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami, dan menarik untuk dilihat.

“Pemikiran kami sebenarnya cukup sederhana, bagaimana sesuatu yang terkadang dianggap sebagai polusi, justru bisa diubah menjadi energi,” ujar santri asal Malang itu.

Zaky menambahkan  tidak perlu takut atau merasa terbebani dalam mengikuti perlombaan berbasis riset dan inovasi. Justru yang harus diyakini adalah riset merupakan bagian dari proses mencari jawaban. Sehingga, meskipun terdapat kendala, harus terus yakin bahwa pasti ada manfaat yang akan didapat.

Pembina tim, Ustadz Farhan Naufal Firdaus Al Fath, M.Si., menjelaskan, proses pembinaan telah dilakukan sejak bulan Agustus. Mulanya, santri diajak untuk berdiskusi perihal permasalahan yang dihadapi Indonesia. Hingga sampailah pada kesimpulan bahwa energi menjadi masalah yang cukup genting. Utamanya perihal penggunaan energi alternatif selain energi fosil.

“Terlepas dari kesibukan belajar mereka di kelas, semangat mereka dalam mempersiapkan penelitian ini sungguh besar. Kedepannya, tentu mereka masih punya banyak kesempatan untuk bisa memperbaiki dan menghasilkan produk yang lebih efisien,” imbuhnya. (nai/lil)

Share this post