AI Mengambil Alih Tugas Guru

MALANG – AI semakin berkembang dan begitu pula dengan ketakutan manusia untuk tergantikan olehnya. Tentu sudah bukan hal aneh jika kemampuan AI sudah cukup untuk menggantikan beberapa pekerjaan manusia. Memangkas lebih banyak anggaran, lebih efektif, dan tentu saja, bisa bekerja tanpa batasan jam.

Bagi AI, tidak ada konsep “nanti”. Setelah menekan enter, AI akan mengerjakannya dengan tuntas. Bahkan diselipi dengan kalimat, “kalau Anda mau, saya bisa membantu Anda menyusun” atau “saya bisa menyederhanakan/mengemasnya menjadi.”  Advertisement

Dalam dunia pendidikan, tentu AI sudah berkembang dengan sangat pesat dan masif. Membuat materi ajar, rencana pembelajaran, dan asesmen bukan perkara sulit untuk AI, bahkan AI bisa menghadirkan materi pengayaan, ice breaking di kelas, sampai ide-ide inovasi pembelajaran yang kreatif yang memerlukan waktu dan energi yang besar dari guru.

Semua dikerjakan oleh AI dalam hitungan menit. Ketakutan akan hilangnya peran guru sangat nyata. Tugas yang dulu selesai dikerjakan oleh guru, kini dapat pula diselesaikan oleh AI. Lalu, apa yang tersisa dari guru?Baca jugaSekolah Multibahasa

Bagi sebagian guru dan pegiat pendidikan, kehadiran Chatgpt, Canva for Education, maupun NotebookLM sudah tidak asing. Chatgpt kerap dimanfaatkan sebagai pembuat rencana pembelajaran, latihan soal, bahkan inovasi kelas berdiferensiasi. Canva for Education membantu guru untuk membuat desain materi, lembar kerja, sampai presentasi secara profesional. Serta NotebookLM yang bisa digunakan untuk membuat rangkuman materi ajar, analisis dokumen, sampai powerpoint yang bisa langsung digunakan.

Semua hal bisa dilakukan oleh AI, tapi ada beberapa hal yang membuat guru tidak bisa digantikan, yakni esensi. Hal yang AI ambil alih adalah tugas administratif, bukan peran pedagogis guru. Dengan berbagai kemudahan dan pangkasan waktu yang diberikan oleh AI, keluhan tentang beratnya tugas administratif justru masih karep terdengar.

Dibalik kecanggihan AI, persoalan sesungguhnya tidak sesederhana tentang alat, melainkan mentalitas. Adanya AI membuka cermin besar yang untuk direnungkan. Guru yang adaptif dengan kemajuan kecerdasan buatan akan menjadi guru yang kreatif dan penuh inovasi. Sedangkan guru yang resisten akan merasa terancam digantikan. AI tidak menciptakan kemalasan, tetapi menelanjangi mentalitas yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan administratif.Advertisement

Ketergantungan pada metode lama juga masih menjadi pekerjaan rumah guru yang harus dihindari, seperti memakai lembar kerja siswa dan pola asesmen yang sama selama bertahun-tahun, hanya diganti sampul atau tahun ajaran, meskipun konteks dan kebutuhan murid sudah berubah. Tidak sedikit guru yang masih bertumpu pada pengajaran terdahulu, bukan karena hal tersebut yang paling benar, melainkan pengajaran tersebutlah yang paling familiar.Baca jugaMembangun Narasi Baru Pengembangan Kompetensi ASN

AI sudah hampir menguasai dan mendukung semua aspek dalam bidang pendidikan. Lalu, apa yang tidak bisa diambil? AI memang bisa menyediakan dan menyusun materi dengan cepat dan lengkap, tapi AI tidak bisa membangun makna. Ia dapat menjawab pertanyaan, namun AI tidak bisa membimbing siswa saat pencarian jati diri.

Guru bisa menanamkan dan membiasakan siswa berempati, menjadi keteladanan, membaca konteks psikologis, membentuk karakter, dan menjalin relasi manusiawi di dalam kelas. Menanamkan makna dan nilai belajar hanya bisa dilakukan oleh seorang guru.Baca jugaNahdlatul Ulama dan Ideologi Pancasila

Ketika kecerdasan buatan mampu menyajikan informasi yang akurat dalam hitungan detik, guru sebagai pusat informasi atau pengetahuan semakin tidak relevan. Hal ini menuntut redefinisi dari peran guru. Pergeseran peran yang dinamis ini membuat guru menjadi arsitek pembelajaran, alih-alih menjadi pusat pembelajaran.

Guru merancang aktivitas kelas, merancang strategi yang sesuai dengan kebutuhan murid, serta memastikan pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman pengetahuan namun sampai pada mengevaluasi dan menciptakan produk baru dengan menggunakan pengetahuan yang ada. AI dapat membantu menyiapkan materi, tetapi keputusan pedagogis sepenuhnya tetap di tangan guru.

Pertanyaan tentang apa yang akan tersisa dari guru ketika segala aspek pendidikan bisa digantikan oleh AI tidak bisa dijawab oleh kecemasan semata. Kemajuan teknologi justru membuka kembali pintu-pintu untuk meninjau ulang makna peran profesi guru itu sendiri.

Ketika beban administratif sudah diselesaikan oleh AI, guru memiliki lebih banyak kesempatan untuk merenungkan kembali tugas guru paling esensial: membimbing, memaknai, dan menumbuhkan manusia pembelajar. Kebutuhan paling besar bukan pada kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan yang semakin pintar, melainkan pada keberanian guru untuk terus adaptif, belajar, dan menjaga kemanusiaan dalam pendidikan.

***

*) Oleh : Yeni Dwi Rahayu Ningtyas, Guru Thursina IIBS.

Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/574563/ai-mengambil-alih-tugas-guru

Upcoming Events
Kick Off Matrikulasi Program for 7th and 10th Grad

Jul 27, 2026

Thursina Fact