MALANG – Di era digital, banyak guru bahasa Inggris menghadapi situasi yang membingungkan. Siswa tampak sangat fasih berbahasa Inggris saat berada di media sosial menonton YouTube, menggulir TikTok, menulis takarir (caption) Instagram, atau berbincang di kolom komentar.
Namun, begitu mereka melangkah masuk ke ruang kelas, mereka menjadi kaku, ragu-ragu, bahkan takut untuk bersuara. Fenomena ini sering kali memicu pertanyaan umum: salah siapakah ini? Siswa? Guru? Ataukah sistem pendidikan kita?
Menelaah masalah ini lebih dalam menunjukkan bahwa ini bukan sekadar mencari siapa yang patut disalahkan. Hal ini mencerminkan realitas pengalaman Generasi Z generasi yang tumbuh besar bersama internet, media sosial, dan konten global yang tak terbatas.
Bagi Gen Z, bahasa Inggris bukan lagi sekadar mata pelajaran sekolah; bahasa tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi sosial. Mereka mempelajari bahasa tersebut dari film, gim, siniar (podcast), meme, dan video pendek secara alami, berulang-ulang, dan tanpa tekanan. Inilah sebabnya mengapa mereka tampak lebih "hidup" saat menggunakan bahasa Inggris di ruang digital dibandingkan di dalam kelas.
Namun, ada perbedaan mendasar yang sering terlewatkan: bahasa Inggris di media sosial bersifat informal, sedangkan bahasa Inggris di kelas biasanya bersifat akademis dan terstruktur. Takarir seperti “This hits different” atau “I can’t relate” mungkin terdengar fasih dan tepat secara kontekstual, namun sering kali tidak memenuhi standar akademis, seperti kemampuan menyampaikan argumen secara logis, menulis esai argumentatif, atau melakukan presentasi formal.
Masalah muncul ketika kesenjangan ini tidak dijembatani. Di kelas, siswa sering kali dihantui ketakutan akan membuat kesalahan baik itu kesalahan tata bahasa (grammar), pengucapan, maupun pilihan kata. Berbeda dengan media sosial yang menawarkan ruang aman untuk bereksperimen, ruang kelas terkadang lebih terasa sebagai tempat penghakiman daripada tempat eksplorasi. Akibatnya, siswa yang sebenarnya menguasai bahasa tersebut justru memilih untuk bungkam.
Di sinilah peran guru menjadi sangat vital. Guru bukanlah musuh teknologi, dan tidak seharusnya bertindak sebagai penjaga gerbang yang kaku dalam menentukan apa yang "benar" atau "salah" dalam penggunaan bahasa. Tantangan bagi pendidik saat ini bukanlah menentang kebiasaan digital siswa, melainkan menjadikannya sebagai jembatan menuju keterampilan akademis.
Menyalahkan salah satu pihak hanya akan memperlebar jarak antara potensi siswa dan realitas pendidikan. Kuncinya terletak pada kolaborasi: mengubah ruang kelas menjadi lingkungan yang inklusif dan minim tekanan, di mana bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai teori, tetapi dirayakan sebagai sarana ekspresi.
Ketika sekolah mampu mengadopsi fleksibilitas dunia digital ke dalam kurikulum yang terukur, barulah kita bisa melihat siswa yang tidak hanya fasih di layar ponsel, tetapi juga percaya diri di panggung dunia nyata.
***
*) Oleh : Alifiyanti Urfah Kalilah, Pengajar Bahasa Inggris di Thursina IIBS.
Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/577451/siswa-lebih-fasih-berbahasa-inggris-di-media-sosial-salah-siapa
