MALANG – Ayah bunda, masih ingat masa remaja kita dulu? Saat novel teenlit atau komik manga berjejer rapi di rak kamar, menjadi pelarian kecil dari tugas sekolah dan hiruk pikuk dunia dewasa. Orang tua kita mungkin tidak sepenuhnya paham apa yang kita baca, tetapi mereka tahu satu hal: kita sedang jatuh cinta pada cerita.
Hari ini, peran itu berbalik. Kita menjadi orang tua milenial yang akrab dengan gawai, tetapi justru dihadapkan pada teka-teki yang lebih rumit. Dunia fiksi anak-anak kita tidak lagi tinggal di rak buku atau toko komik, melainkan berkelana bebas di ruang digital yang nyaris tanpa pagar.AdvertisementTemukan lebih banyakwaktuReferensi GeografisBerita
Anak-anak kita tidak sekadar membaca cerita. Mereka hidup di dalamnya. Mereka nongkrong, berdiskusi, membentuk komunitas, bahkan membangun identitas di platform-platform digital yang menjadi “pasar cerita” zaman ini: Wattpad, Webtoon, Discord, X, Telegram, Instagram, hingga Archive of Our Own. Dunia fiksi telah bermetamorfosis menjadi ekosistem sosial, tempat imajinasi, relasi, dan emosi saling bersilangan.
Di satu sisi, fenomena ini adalah kabar baik. Dunia fiksi digital membuka ruang kreativitas yang luas. Siapa pun bisa menjadi penulis, siapa pun bisa menjadi pembaca. Remaja belajar menyusun cerita, berdebat tentang karakter, dan mengasah empati melalui sudut pandang yang beragam.
Namun di sisi lain, lautan cerita ini juga menyimpan arus bawah yang perlu diwaspadai. Tidak semua konten tersaring dengan baik. Tema dewasa, kekerasan, hingga eksplorasi emosi ekstrem kerap hadir hanya sejauh satu klik dari layar anak kita.Baca jugaNisfu Syaban: Warm-up Spiritual Sebelum Final Match di Bulan Ramadan
Mengapa dunia fiksi digital begitu memikat remaja? Jawabannya sederhana sekaligus kompleks. Karena di sanalah mereka menemukan ruang untuk bereksplorasi tanpa dihakimi.
Remaja berada di fase pencarian jati diri, dan dunia fiksi menawarkan laboratorium emosi: cinta, luka, konflik, dan harapan yang bisa dicoba tanpa risiko nyata. Fantasi menjadi pintu keluar dari rutinitas yang menekan, dari tuntutan akademik, dan dari kebingungan menjadi “dewasa” versi masyarakat.Advertisement
Masalahnya muncul ketika fiksi tidak lagi dibaca sebagai fiksi, melainkan dinormalisasi sebagai rujukan perilaku. Tokoh-tokoh dengan relasi toksik, kekerasan yang dimaklumi, atau romansa yang tidak sehat bisa diam-diam membentuk cara pandang.
Paparan berulang terhadap konten semacam ini berisiko memengaruhi kesehatan mental, membingungkan batas moral, bahkan membuka pintu pada konten pornografi dan kekerasan. Ini bukan tuduhan berlebihan, melainkan alarm yang perlu kita dengar dengan kepala dingin.Baca jugaMembangun Narasi Baru Pengembangan Kompetensi ASN
Tulisan ini bukan ajakan untuk panik, apalagi melarang anak dari dunia fiksi digital. Larangan sering kali hanya memindahkan aktivitas ke ruang yang lebih gelap. Yang kita butuhkan justru peningkatan literasi digital sebagai orang tua.
Sebelum mendampingi anak, kita perlu mengenali medannya. Dunia fiksi digital punya bahasa sendiri, kosakata sendiri, dan budaya yang khas. Tanpa memahami itu, komunikasi kita akan terasa seperti dua orang yang berbicara dalam bahasa berbeda.
Istilah seperti manga, manhwa, fanfiction, AU, hingga NSFW bukan sekadar jargon. Ia adalah penanda dunia yang sedang dijelajahi anak kita. Memahami istilah ini bukan berarti menyetujui semua isinya, melainkan agar kita tidak sepenuhnya buta. Pengetahuan menjadi pintu awal untuk berdialog dari posisi yang setara, bukan dari menara kecurigaan.
Ironisnya, meski kita generasi pertama yang melek digital, kita sering merasa kalah canggih dari anak-anak kita sendiri. Namun justru di situlah peluangnya. Dengan sedikit kerendahan hati, kita bisa masuk ke dunia mereka. Mulailah dengan pertanyaan ringan, tanpa interogasi dan tanpa menghakimi. Baca jugaNahdlatul Ulama dan Ideologi Pancasila
Tanyakan apa yang mereka baca, mengapa mereka menyukainya, dan bagian mana yang paling berkesan. Mintalah mereka merekomendasikan satu cerita favorit. Bacalah satu atau dua bab, bukan untuk mengawasi, tetapi untuk memahami.
Dari percakapan semacam itulah jembatan dibangun. Kita bisa mulai menanamkan nilai, membicarakan batas, dan mengenalkan etika literasi digital. Anak akan lebih terbuka menerima arahan ketika ia merasa didengar, bukan dicurigai. Pendampingan yang hangat jauh lebih efektif daripada pengawasan yang kaku.
Pada akhirnya, fiksi digital bukan musuh. Ia adalah cermin dari dunia batin remaja yang penuh tanya dan gejolak. Gawai yang sering dituduh memisahkan justru bisa menjadi jembatan percakapan, jika kita mau melangkah ke tengahnya.
Masa depan anak kita akan semakin terintegrasi dengan dunia virtual. Mustahil memutus koneksi mereka dari teknologi. Yang bisa kita lakukan adalah membekali mereka dengan kompas moral, nilai agama, filter mental, dan kepercayaan diri untuk bernavigasi dengan aman.
Tugas kita sebagai orang tua bukan menjaga anak dari dunia, melainkan menemani mereka menjelajahi dunia dengan pegangan yang kuat. Dalam dunia fantasi sejauh apa pun mereka melangkah, mereka harus tahu satu hal yang paling nyata: ada rumah untuk pulang, dan ada orang tua yang siap mendengar.
***
*) Oleh : Zahra Zakiyah, Guru Thursina IIBS.
Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/576253/alarm-sunyi-bagi-literasi-orang-tua-milenial
