MALANG – Di ruang kelas hari ini, ada pemandangan yang dulu nyaris tak pernah kita bayangkan. Seorang siswa dengan penuh keyakinan mengutip pendapat agama dari video berdurasi kurang dari satu menit. Ia menyampaikannya dengan nada tegas, seolah telah menemukan jawaban final. Ketika ditanya dari mana ia belajar, jawabannya sederhana: dari media sosial.
Bukan dari kitab yang dibaca perlahan. Bukan dari diskusi panjang yang penuh pertimbangan.
Melainkan dari potongan konten yang dikemas menarik, cepat, dan meyakinkan. Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Ia berulang. Dan semakin terasa sebagai pola.
Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak kekurangan informasi. Justru sebaliknya, mereka dibanjiri informasi tanpa jeda. Dalam satu layar kecil, tersedia ceramah, perdebatan, motivasi, potongan dalil, hingga kesimpulan hukum yang kompleks semuanya hadir berdampingan tanpa penjelasan yang utuh.
Yang paling sering muncul, terasa paling benar. Yang paling percaya diri menyampaikan, dianggap paling paham. Di sinilah perubahan besar itu terjadi.Baca jugaRekonstruksi Hukum Pilkada Kolom Kosong
Otoritas tidak lagi otomatis melekat pada guru. Kepercayaan tidak lagi dibangun semata-mata karena posisi atau gelar. Algoritma media sosial perlahan menggeser ruang yang dulu diisi oleh kelas dan buku.
Namun, menyalahkan teknologi sepenuhnya tentu bukan jawaban. Media sosial bukan musuh. Ia hanyalah alat, cermin dari zaman yang terus bergerak. Yang menjadi persoalan adalah ketika anak-anak belajar agama tanpa pendampingan berpikir, tanpa ruang dialog, tanpa proses yang memadai untuk memahami konteks.
Agama, yang seharusnya dipelajari dengan ketenangan dan kehati-hatian, kini kerap dipahami secara instan dan sepotong-sepotong. Akibatnya, muncul sikap yang mudah menghakimi, cepat menyimpulkan, dan sulit menerima perbedaan. Padahal perbedaan pendapat dalam tradisi keilmuan Islam bukanlah hal baru, melainkan bagian dari kekayaan intelektual yang panjang.
Di tengah situasi ini, pendidikan agama menghadapi tantangan yang tidak ringan. Guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi. Ia perlu memahami dunia digital yang membentuk cara pandang murid-muridnya. Ia harus hadir bukan sekadar sebagai pemberi jawaban, tetapi sebagai pendamping yang membantu murid belajar berpikir.
Anak-anak hari ini tidak sekadar ingin diberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mereka ingin didengar kegelisahannya. Mereka ingin diajak berdialog. Mereka ingin dipahami.
Di sinilah nilai humanisme dalam pendidikan menemukan urgensinya. Pendidikan agama bukan hanya soal hafalan dalil atau penjelasan hukum. Ia adalah proses membentuk sikap: rendah hati dalam mencari kebenaran, lapang dalam menyikapi perbedaan, dan bijak dalam menyampaikan pendapat.
Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak bahwa tidak semua yang viral itu final. Bahwa potongan dalil membutuhkan konteks. Bahwa keberanian berbicara tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman ilmu. Dan bahwa dalam banyak persoalan agama, sikap hati-hati sering kali lebih utama daripada tergesa-gesa memberi label.
Keteladanan menjadi kunci. Di tengah kebisingan dunia digital, sosok yang tenang, konsisten antara ucapan dan sikap, justru lebih membekas. Guru yang tidak mudah menghakimi, yang sabar menjelaskan perbedaan, dan yang mengakui ketika belum mengetahui sesuatu, sedang mengajarkan nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar materi pelajaran.
Tantangan terbesar pendidikan agama hari ini bukanlah derasnya konten media sosial. Tantangannya adalah bagaimana kita tetap hadir sebagai figur yang layak dipercaya. Anak-anak tidak sedang mencari siapa yang paling keras bersuara. Mereka mencari siapa yang mampu menuntun mereka memahami kebenaran dengan jernih, manusiawi, dan penuh kebijaksanaan.
Dan mungkin, di tengah perubahan zaman ini, kita pun sedang diingatkan bahwa pendidikan sejatinya bukan soal siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang paling tulus mendampingi.
***
*) Oleh : Salsabila Firdausi Maulana, Pendidik Thursina IIBS Malang.
Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/577600/algoritma-pembimbing-anak
