MALANG – Perubahan dalam dunia pendidikan berlangsung begitu cepat. Digitalisasi, sistem berbasis data, serta integrasi teknologi dalam proses belajar telah mengubah wajah pendidikan di berbagai belahan dunia. Modernisasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata agar lembaga pendidikan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan arah dan nilai.
Di tengah dinamika tersebut, saya menyaksikan sebuah realitas menarik di THURSINA IIBS. Santri yang belajar di sini datang dari berbagai negara. Mereka tumbuh dalam lingkungan internasional, terbiasa dengan keberagaman budaya, serta memiliki paparan teknologi sejak usia dini. Ketika mereka datang ke Indonesia untuk menempuh pendidikan, yang mereka cari bukan hanya kualitas akademik, tetapi juga penguatan identitas dan karakter keislaman.Advertisement
Seluruh santri belajar secara tatap muka dan tinggal di lingkungan boarding. Interaksi terjadi secara langsung, pembinaan karakter berlangsung setiap hari, dan kedisiplinan dibangun melalui rutinitas yang terstruktur. Namun meskipun sistemnya sepenuhnya offline, pendekatan pembelajaran dirancang dengan standar modern dan inovatif.
Proses belajar tidak lagi sebatas ceramah satu arah. Kelas dirancang interaktif, berbasis diskusi, analisis kasus, dan proyek kolaboratif. Evaluasi dilakukan secara komprehensif, jadi tidak hanya melalui ujian tertulis, tetapi juga presentasi, riset terstruktur, refleksi tertulis, serta proyek yang menuntut pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Perkembangan akademik santri terdokumentasi secara sistematis sehingga guru dapat memberikan pendampingan yang lebih personal dan terarah.Baca jugaIndonesia Sangat Cocok untuk Umat Islam
Modernisasi dalam konteks ini bukan berarti mengganti nilai dengan teknologi. Sebaliknya, teknologi digunakan sebagai alat untuk memperkuat efektivitas pembelajaran. Guru dapat memetakan kebutuhan belajar santri, memberikan umpan balik yang lebih cepat dan spesifik, serta merancang strategi yang sesuai dengan potensi masing-masing individu. Sistem yang rapi dan terintegrasi membantu pembinaan berjalan lebih terukur tanpa kehilangan sentuhan manusia.
Santri global memiliki karakteristik yang unik. Mereka terbiasa berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Diskusi di kelas sering kali hidup dan dinamis. Mereka mampu mengaitkan isu internasional dengan perspektif yang luas. Namun di sisi lain, paparan global juga menghadirkan tantangan identitas. Arus informasi yang begitu deras menuntut kemampuan menyaring nilai, bukan sekadar menerima.
Di sinilah pendidikan Islam mengambil peran penting. Modernisasi sistem harus berjalan seiring dengan penguatan adab. Ketika membahas literasi digital, yang ditekankan bukan hanya kecakapan teknis, tetapi juga etika: bagaimana menjaga tutur kata, menghindari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya, serta memahami tanggung jawab moral atas setiap jejak digital.Advertisement
Dalam keseharian boarding, pembinaan karakter tidak berhenti di ruang kelas. Shalat berjamaah, halaqah Al-Qur’an, diskusi nilai, hingga keteladanan guru menjadi fondasi yang terus menguatkan identitas santri. Sistem boleh modern, tetapi ruh tarbiyah tetap menjadi inti. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan manusia beradab.Baca jugaBekal Menuju Kampus Dunia, 66 Santri Thursina IIBS Malang Ikuti Pre-Departure Training 2026
Sebagai academic advisor, saya menyadari bahwa setiap santri memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Ada yang lama tinggal di Eropa, Asia, maupun Timur Tengah. Pengalaman tersebut membentuk pola pikir dan cara pandang mereka. Pendekatan pembinaan pun tidak bisa seragam. Dibutuhkan dialog, pendampingan, serta ruang refleksi agar mereka mampu mengintegrasikan pengalaman global dengan nilai keislaman yang kokoh.
Kolaborasi dengan orang tua juga menjadi bagian penting dalam sistem ini. Komunikasi yang terstruktur memungkinkan perkembangan akademik dan karakter santri terpantau secara berkala. Meskipun orang tua berada di negara yang berbeda, sinergi tetap terjaga. Pendidikan menjadi kerja bersama antara sekolah dan keluarga.Baca jugaSholat, Khusyuk dan Jamaah
Tantangan tentu tetap ada. Kemajuan teknologi membawa potensi distraksi. Paparan budaya global dapat memengaruhi cara pandang remaja. Namun justru di sinilah urgensi fondasi iman. Modernisasi tanpa nilai berisiko melahirkan generasi cerdas tetapi rapuh. Sebaliknya, nilai tanpa adaptasi akan membuat pendidikan tertinggal. Keseimbangan menjadi kunci.
Saya meyakini bahwa santri dengan pengalaman internasional memiliki potensi besar menjadi generasi penghubung. Mereka memahami dunia global, mampu berkomunikasi lintas budaya, dan memiliki wawasan luas. Jika dibekali karakter yang kuat, mereka dapat menjadi representasi Muslim yang cerdas, terbuka, dan berintegritas di mana pun berada.
Menjaga identitas di tengah modernisasi pendidikan bukan berarti menolak perubahan. Ia adalah upaya menyelaraskan inovasi dengan prinsip. Sistem boleh berkembang, pendekatan boleh semakin canggih, tetapi arah pendidikan tetap sama: membentuk manusia berilmu dan beradab.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik atau kecanggihan sistem. Keberhasilan sejati adalah ketika santri mampu berdiri teguh di tengah pergaulan global tanpa kehilangan nilai dan jati diri. Modern dalam metode, kokoh dalam prinsip. Itulah pendidikan yang terus kami ikhtiarkan.
***
*) Oleh : Aftina Zakiyya Wafda, Vice Manager International Student Thursina IIBS.
Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/579748/menjaga-identitas-di-tengah-modernisasi-pendidikan
