MALANG – Pendidikan hari ini tidak lagi sepenuhnya tinggal di ruang kelas yang berdebu kapur dan papan tulis yang buram. Ia telah pindah rumah ke layar gawai, ke sinyal internet, ke ruang virtual yang tak mengenal lonceng masuk dan pulang.
Era digital datang seperti air bah: deras, cepat, dan sulit ditolak. Ia mengubah cara guru mengajar, cara murid belajar, bahkan cara sekolah memaknai dirinya sendiri.
Peran guru pun bergeser. Ia tak lagi berdiri sebagai satu-satunya “menara pengetahuan” yang menurunkan ilmu dari ketinggian mimbar kelas. Seperti dikatakan Downes, guru kini lebih mirip pemandu perjalanan: fasilitator yang membantu siswa menelusuri rimba informasi, memilah yang benar dari yang menyesatkan, mengolah data mentah menjadi pemahaman yang bernilai. Guru bukan lagi pusat semesta, melainkan kompas.
Di sisi lain, siswa juga tak bisa lagi hanya duduk manis sebagai penadah ilmu. Mereka berubah menjadi pembelajar aktif, pemburu informasi, penjelajah digital. Buku paket digantikan mesin pencari, catatan tulis tangan digeser oleh folder daring, diskusi kelas berpindah ke kolom komentar.
Sekilas, ini tampak seperti kabar baik: pendidikan menjadi lebih demokratis, lebih terbuka, lebih fleksibel. Namun setiap cahaya selalu membawa bayangan.
Transformasi digital dalam pendidikan memang menawarkan janji manis: pembelajaran personal, akses sumber pengetahuan tanpa batas, dan metode belajar yang kreatif. Tapi di balik janji itu, tersembunyi jurang-jurang masalah yang tak kalah dalamnya.
Tidak semua siswa lahir di rumah yang bersinyal kuat. Tidak semua sekolah berdiri di atas tanah yang dialiri internet stabil. Di banyak tempat, teknologi masih menjadi barang mewah, bukan kebutuhan dasar.
Kesenjangan digital akhirnya menjelma seperti tangga yang patah: sebagian anak bisa melompat jauh ke depan, sebagian lain tertinggal di bawah, menatap layar kosong karena kuota habis atau jaringan menghilang. Pendidikan yang seharusnya menjadi jembatan justru berpotensi menjadi pagar pembatas baru.
Masalah tidak berhenti di situ. Kesiapan sumber daya manusia juga tertatih. Banyak guru dipaksa berlari di lintasan teknologi tanpa sepatu. Mereka diminta menguasai platform, aplikasi, dan sistem daring, sementara pelatihan datang setetes demi setetes. Siswa pun sering kali lebih cepat menguasai gawai, tetapi belum tentu matang dalam mengelola dampaknya.
Di sinilah paradoks digital muncul: teknologi yang menjanjikan kecerdasan justru bisa melahirkan kemalasan berpikir. Ketika jawaban tinggal salin-tempel, proses merenung menjadi barang langka. Ketika tugas bisa dikerjakan dengan bantuan mesin, daya juang mental ikut melemah.
Ketika ujian dapat dicurangi dengan sekali klik, kejujuran terancam menjadi nilai museum. Lebih jauh lagi, digitalisasi menyentuh wilayah paling sunyi dalam pendidikan: pembentukan karakter.Baca jugaRekonstruksi Hukum Pilkada Kolom Kosong
Sekolah bukan hanya pabrik nilai rapor, melainkan bengkel akhlak dan laboratorium kepribadian. Namun di dunia maya, etika sering tertinggal di belakang kecepatan. Perundungan digital tumbuh seperti jamur di musim hujan. Privasi bocor seperti ember retak. Kata-kata kasar beredar tanpa rasa bersalah, karena wajah korban tersembunyi di balik layar.
Jika pendidikan hanya sibuk mengejar kecakapan teknologi, maka kita sedang mencetak generasi yang tangannya canggih, tetapi hatinya rapuh.
Pendidikan karakter tidak boleh menjadi mata pelajaran tambahan yang hidup segan mati tak mau. Ia harus menjadi nafas dalam setiap proses belajar digital. Anak-anak perlu diajari bahwa jempol mereka punya konsekuensi, bahwa komentar bisa melukai, bahwa data pribadi bukan barang dagangan, bahwa kebebasan berekspresi bukan tiket untuk menginjak martabat orang lain.
Pendidikan karakter di era digital bukan nostalgia masa lalu, melainkan kebutuhan masa depan. Ia mengajarkan cara menjadi manusia di tengah mesin. Mengajarkan empati di tengah algoritma. Menanamkan tanggung jawab di antara notifikasi yang tak pernah tidur.
Pendekatannya pun harus holistik. Nilai-nilai moral tidak cukup diceramahkan, tetapi dihidupkan dalam praktik literasi digital: bagaimana memverifikasi informasi, bagaimana berdiskusi tanpa menghina, bagaimana berbeda tanpa memusuhi. Etika teknologi harus berjalan beriringan dengan keterampilan teknis. Kecerdasan sosial harus tumbuh seiring kecerdasan buatan.Baca jugaMembangun Narasi Baru Pengembangan Kompetensi ASN
Sekolah perlu menjadikan ruang digital sebagai laboratorium karakter: tempat siswa belajar jujur saat godaan mencontek terbuka lebar, belajar sabar ketika provokasi viral bertebaran, belajar bertanggung jawab saat dunia maya menawarkan anonimitas yang meninabobokan.
Tanpa itu, pendidikan digital hanya akan melahirkan generasi cepat, tetapi dangkal. Pintar, tetapi mudah goyah. Terhubung ke seluruh dunia, tetapi tercerabut dari nilai.
Teknologi hanyalah alat. Ia seperti pisau: bisa digunakan untuk memotong sayur, bisa pula melukai. Yang menentukan bukan kecanggihannya, melainkan tangan dan hati yang menggunakannya.
Pendidikan di era digital seharusnya tidak sekadar mencetak manusia yang pandai mengoperasikan layar, tetapi manusia yang mampu menatap masa depan dengan nurani. Di tengah cahaya biru gawai yang menyala siang malam, sekolah masih harus menjadi tempat menyalakan cahaya yang lebih tua dan lebih penting: karakter.
Sebab tanpa karakter, pengetahuan hanya akan menjadi mesin tanpa rem. Dan tanpa etika, kemajuan hanyalah jalan cepat menuju jurang yang sama, hanya lebih modern bentuknya.
***
*) Oleh : Salsa Billa Riska Aulia, Islamic Studies Teacher, Thursina IIBS Malang.
Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/575270/pendidikan-di-era-digital-dan-nasib-karakter
