MALANG – Penggunaan gawai di sekolah hari ini bukan lagi sesuatu yang asing. Di banyak ruang kelas, tab, ponsel pintar, hingga laptop telah menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran sehari-hari. Bahkan, pada sejumlah satuan pendidikan, penggunaan gawai bersifat wajib karena kurikulum yang diterapkan sudah berbasis teknologi. Digitalisasi pendidikan pun kerap dipandang sebagai keniscayaan demi efisiensi, kemudahan akses materi, serta percepatan informasi tanpa harus selalu bergantung pada buku cetak.
Namun, di balik kelas yang tampak modern dan serba digital tersebut, muncul sebuah kegelisahan yang patut direnungkan bersama: Mengapa interaksi antarmanusia justru semakin menipis? Guru berbicara di depan kelas, tetapi perhatian murid kerap terpecah oleh layar.
Diskusi berlangsung, tetapi tidak jarang mata lebih fokus pada gawai dibandingkan lawan bicara. Pertanyaannya kemudian, apakah kemajuan teknologi selalu sejalan dengan pembentukan karakter peserta didik?
Sekolah sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, sekolah adalah ruang pembiasaan sikap. Di sanalah murid belajar mendengarkan dengan saksama, menyampaikan pendapat secara santun, menghargai perbedaan, serta membangun adab dalam proses belajar. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui interaksi langsung, keteladanan, dan pengalaman nyata yang dialami secara berulang.
Masifnya penggunaan gawai secara perlahan menggeser ruang-ruang tersebut. Komunikasi antara guru dan murid kini sering dijembatani oleh layar. Dalam kondisi tertentu, gawai seolah menciptakan batas yang sulit dikontrol sepenuhnya oleh guru. Murid hadir secara fisik, tetapi tidak selalu hadir secara utuh dalam proses belajar.
Akibatnya, berbagai aktivitas pembentuk karakter-seperti mendengar dengan penuh perhatian, menghargai pendapat teman, atau menunjukkan sikap hormat kepada guru-mengalami reduksi. Tentu tidak semua murid bersikap sama, tetapi ruang praktik pendidikan karakter memang tidak lagi seluas sebelumnya. Ia tidak hilang sepenuhnya, namun jelas menyempit.
Pendidikan karakter pada hakikatnya tidak tumbuh dari instruksi semata. Ia tidak cukup diajarkan melalui slogan, poster motivasi, atau materi dalam bentuk dokumen digital. Nilai-nilai seperti disiplin, empati, tanggung jawab, dan adab belajar lahir dari latihan yang konsisten dalam situasi nyata.
Ketika gawai mendominasi proses pembelajaran, banyak momen berharga untuk melatih nilai-nilai tersebut terpotong atau bahkan terlewatkan. Karakter, bagaimanapun juga, tidak bisa diunduh atau dipindahkan begitu saja melalui layar.
Di sisi lain, tidak sedikit sekolah yang merasa telah berada di jalur aman. Gawai dianggap tidak bermasalah karena digunakan untuk kepentingan belajar. Aplikasi tertentu dibatasi, pengawasan dilakukan, dan aturan telah dibuat. Pada tahap awal, pandangan ini tampak logis. Namun, apakah hal tersebut benar-benar menjamin terbentuknya iklim belajar yang sehat?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa distraksi tetap terjadi. Notifikasi datang silih berganti, fokus murid terbelah, dan guru sering kali kalah cepat dari arus digital. Yang terkikis bukan hanya konsentrasi belajar, tetapi juga ketahanan diri peserta didik dalam mengelola godaan dan batasan.
Dalam situasi seperti ini, peran guru menjadi semakin kompleks. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga pengawas digital, penjaga fokus, sekaligus penyeimbang nilai. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mendidik generasi layar tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.
Guru dituntut untuk adaptif terhadap teknologi, namun tetap teguh menjaga esensi pendidikan. Di titik inilah muncul pertanyaan reflektif yang patut diajukan bersama: Apakah kita sedang benar-benar memudahkan proses belajar, atau justru mempersulit pendidikan itu sendiri?
Menyikapi persoalan ini, pendekatan yang diambil seharusnya tidak bersifat ekstrem. Gawai tidak perlu diharamkan, tetapi juga tidak dibiarkan tanpa arah. Jalan tengah menjadi pilihan yang lebih bijak. Prinsip sederhana namun tegas dapat diterapkan: ada waktu belajar tanpa gawai. Pembatasan ini bukan untuk mengekang, melainkan untuk memberi ruang bagi interaksi nyata yang mendidik.
Namun, upaya tersebut tentu tidak bisa dibebankan kepada guru semata. Peran sekolah sebagai institusi menajdi sangat penting. Sekolah perlu menghadirkan aturan yang jelas, kesepakatan nilai yang disepakati bersama, serta ruang-ruang interaksi yang dirancang secara sadar. Pendidikan karakter tidak boleh sekadar dititipkan, apalagi diserahkan sepenuhnya pada kesadaran individu murid. Ia harus dirancang, dihidupkan, dan dijaga secara kolektif.
Sekolah adalah ruang bertumbuh, bukan sekadar ruang yang terkoneksi dengan jaringan internet. Ketika pendidikan karakter kehilangan ruang praktiknya, keberanian untuk mengevaluasi arah menjadi sebuah keharusan. Teknologi sejatinya hanyalah alat, bukan tujuan, apalagi tuan. Ia diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk memperbudaknya.
Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang paling canggih secara teknologi, melainkan sekolah yang paling mampu memanusiakan manusia. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki.
***
*) Oleh : Septa Rellani, Lc., M.H., Islamic Studies Teacher IIBS Thursina, Malang.
Sumber: TIMES INDONESIA https://timesindonesia.co.id/kopi-times/577305/pendidikan-karakter-yang-kehilangan-ruang
