Bangsa Yang Terbelenggu Kekeliruan Sejarah

Ada sesuatu yang keliru di negeri kita ini. Tapi kekeliruan itu juga dimulai dari kekeliruan sebelumnya. Dan begitu pula sambung menyambung dari awalnya.

Bangsa kita ini menggunakan sistem demokrasi. Secara konseptual adalah bagus. Hanya pada tataran emplementasinya, terasa belum dijalankan sebagaimana mestinya.

Penyimpangan tersebut lagi-2 karena kekeliruan yg mendahuluinya.  Masyarakat kita ini terlalu menghargai harta dan bukan ilmu. Bahkan sekolah juga dikaitkan dengan keinginan bergaji besar. Menjadi orang kaya itulah yg dicita-citakan. Menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat bahwa yang  dihargai adalah kekayaan dan bukan orang berilmu.

Ketika menjalankan demokrasi, dalam  bersaing, orang  yg terpilih  bukan selalu orang pintar dan bukan orang shaleh, tapi orang kaya. Siapapun yang kaya itulah yang menang, tanpa memperhitungkan  siapa orangnya.

Akibatnya, sekarang  negara ini bukan dikuasai oleh orang arif dan pintar, tapi orang yg kaya harta. Siapa yg kaya, merekalah yg akan berkuasa. Jangankan untuk menjadi bupati, walikota, gubernur, DPR, dan seterusnya, sedangkan ingin menjadi kepala desa saja harus mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah.

Akhirnya bangsa ini bukan menjalankan demokrasi, melainkan bangsa yg diwarnai oleh suasana transaksional. Siapa saja yg ikut bayar itulah yg dapat jabatan. Akhirnya pejabatnya bukan orang yg bisa mensinkronkan program mensejahterakan rakyat,  tapi orang yg sibuk mencari kembalian modal yg telah dibayar duluan.

Kita sekarang sedang menyaksikan permainan para pejabat di berbagai lapisanan yg sedang cari kembalian modal plus keuntungan. Zamannya adalah zaman transaksi, zaman perdagangan, dan bahkan zaman berebut untung. Suasananya persis di pasar tradisional. Terjadi tawar menawar harga. Siapa yang sanggup membayar mahal itulah yang menang. Orang yang tidak bermodal, sekalipun pintar dan punya gelar akademik puncak, jangan berharap terpakai, apalagi meraih posisi strategis.

Semua orang cari uang, cari untung, bukan lagi cari kemuliaan dan keagungan. Apa dikata, keadaan sudah parah. Yg sakit bukan tubuhnya, tetapi adalah hatinya...


Prof. Dr. Imam Suprayogo
Guru Besar UIN Malang
Ketua Dewan Pakar Tazkia IIBS

Share this post